Equity World Futures: Utang luar negeri Indonesia terus mengalami lonjakan, namun pemerintah masih menganggap aman. Pada Mei 2014, kenaikan pinjaman asing dilakukan pemerintah mencapai Rp 20,95 triliun.

Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan kenaikan utang luar negeri merupakan dampak langsung skema anggaran defisit. Utang pemerintah pasti meningkat seiring dengan kenaikan defisit primer di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Utang itu yang terpenting jangan dilihat dari nominal tapi dari persen terhadap Produk Domestik Bruto. Nominalnya seolah gede atau kecil, tapi harus dilihat dari total pendapatan. Rasio utang terhadap PDB sekarang masih sekitar 23-24 persen,” ujarnya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (20/6).

Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan mencatat pada periode Mei ini utang Indonesia menjadi Rp 2.461,36 triliun. Melonjak dari periode April sebesar Rp 2.440,41 triliun.

Produk Domestik Bruto Indonesia menilik catatan APBN-P 2014, kini telah mencapai Rp 10.062 triliun. Lantaran pendapatan Indonesia cukup besar, Menkeu merasa besaran utang yang terus meningkat ini masih aman. Aliran kas negara juga tidak akan bermasalah.

Chatib merasa yang harus diwaspadai adalah utang luar negeri swasta. Itu pun menurutnya sudah menjadi perhatian Bank Indonesia “Karena utang swasta enggak sepenuhnya di bawah kontrol pemerintah dan Bank Indonesia. BI lagi coba formulasikan bagaimana utang luar negeri dijaga,” ungkapnya.

Dari data terbaru Utang Luar Negeri (ULN) Bank Indonesia, pada April 2014, BI mencatat pinjaman asing mencapai USD 276,6 miliar. Angka ini tumbuh 7,6 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau April 2013. Utang luar negeri Indonesia masih didominasi sektor swasta. Utang sektor publik sebesar USD 131 miliar dan utang luar negeri swasta USD 145,6 miliar.

Sumber berita: www.merdeka.com