EquityWorld Futures Jakarta: Negara berkembang kini berada di ambang malapetaka. Ketergantungan terhadap impor minyak mengancam stabilitas ekonomi negara-negara industri baru, termasuk Indonesia.

Betapa tidak, harga si emas hitam ini tengah melambung tinggi. Terakhir, harga minyak rata-rata menembus US$114,2 per barel atau naik lebih dari 10 persen. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah jenis brent saja sudah naik hingga 5 persen. Semuanya terjadi setelah Irak, salah satu pemasok minyak dunia, dilanda konflik.

Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, dan Turki, kenaikan harga minyak mendatangkan bencana ekonomi. Sebab, negara-negara ini masih mengandalkan impor sebagai sumber pasokan minyak untuk kebutuhan industri maupun individu. Apalagi, Indonesia dan India memberlakukan subsidi, yang nilainya bisa mencapai 25 persen dari belanja negara.

Walhasil, kurs rupiah dan rupee terhadap dolar Amerika terus melemah. Rupiah saja kini sudah menembus Rp12 ribu per dolar. Jika harga minyak terus menanjak, beban belanja subsidi akan semakin berat dan neraca perdagangan terus tergerus. Rupiah pun semakin terperosok.

Melihat kondisi ini, analis dari perusahaan pialang PVM, David Hufton, mengatakan pemulihan ekonomi negara berkembang kian terancam. Hufton pun memperingatkan pemerintah negara berkembang untuk mengurangi impor minyak, jika harga emas hitam itu sudah melampaui US$125 per barrel karena bisa mengancam pemulihan ekonomi secara global.

Jalan satu-satunya untuk selamat memang mengurangi impor minyak, dan mencari sumber energi baru.

Sumber berita: www.plasadana.com