Equityworld futures – Bagi para investor yang telah membeli emas, jangan takut dengan penurunan $ 60 per ounce harga pasca pemilu AS dikarenakan momen terbaik untuk emas masih belum datang.

Ahli pasar mengatakan kenaikan suku bunga riil, yang mana didapatkan dengan mengurangkan suku bunga dari inflasi, merupakan akar penyebab di balik bencana baru-baru ini untuk harga emas.

Meski mencoba untuk menorobos downtrend, yang telah berada di kisaran yang kurang lebih sama sejak 2011 sebanyak lima kali tahun ini, emas tetap berdiri dalam pijakannya.

Dan dengan meningkatnya inflasi yang lebih cepat daripada suku bunga – situasi yang ahli pasar rasa akan menjadi fitur dari pemerintahan Trump – maka akan menjadi pertanda positif untuk emas.

“Kebijakan Trump sebagian besar berbasis di sekitar pelonggaran fiskal melalui pemotongan pajak dan rencana belanja pemerintah lebih besar. Kebijakan ini seharusnya akan meningkatkan inflasi, yang memperkuat pandangan kami bahwa inflasi AS akan bergerak lebih cepat dari suku bunga nominal, yang berarti bahwa suku bunga riil, yang berkorelasi negatif dengan emas, akan berada di bawah tekanan yang lebih besar, “dan oleh karena itu maka akan menjadi positif untuk emas, kata Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS Wealth Management.

Dalam skenario kenaikan suku bunga, investor biasanya lebih menyukai obligasi dikarenakan lebih tingginya yield yang didapatkan, dan oleh sebab itu kenaikan suku bunga akan menjadi negatif untuk aset safe haven lain seperti emas. Namun, dalam situasi di mana inflasi meningkat lebih cepat dari suku bunga, atau apa yang disebut sebagai suku bunga riil negatif, investor biasanya akan mencari perlindungan di logam kuning untuk menjaga kekayaan.

Bahkan Ole Hansen, kepala strategi komoditas, bersependapat dengan Staunovo.

“Jika obligasi akan naik, seiring meningkatnya inflasi, maka akhirnya ekspektasi inflasi akan terlihat menyusul kenaikan yang kita lihat dalam imbal hasil obligasi. Maka, imbal hasil riil akan turun lagi. Setelah itu terjadi, emas akan menemukan dukungan, “kata Hansen Gulf News saat kunjungan kerja nya.

Emas bisa jatuh ke level terendah dari sub $ 1.200 per ounce, tetapi mungkin akan menemukan pemulihan yang cepat tahun depan untuk bergerak menyamai level tertinggi sebelumnya, katanya.

“Emas akan stabil di level antara $ 1,170- $ 1,210 dan akhirnya akan bergerak lebih tinggi lagi. Posisi stop loss saya berada di level $ 1.170, yang apabila jatuh di bawah level itu maka saya harus menyesuaikan portofolio saya. Jika emas menerobos ke atas $ 1.250 per ounce, maka hal itu akan menciptakan lebih banyak kepercayaan, “kata Hansen.

Namun, pasca pemilu AS, ahli pasar merasa masih terdapat ˜angin ribut™ lainnya.

“Kita belum keluar dari samudera. Ada pemilu yang akan datang di Italia, Perancis dan Jerman di tengah voting anti-establishment pada waktu Brexit dan pemilihan presiden AS, “kata Hansen.

“Ini akan berdampak pada komoditas, karena memberikan risiko untuk euro yang berada di bawah tekanan, dan dolar bisa bergerak lebih tinggi. ECB enggan untuk menaikkan suku bunga, sehingga kesenjangan antara ECB, dan AS mungkin akan tetap lebar. Dolar memiliki potensi bergerak lebih tinggi, namun akan banyak hal-hal lain yang akan terjadi, “tambah Hansen.

Pasar secara umum sedang mengalami penyesuaian kembali secara besar-besaran setelah hasil mengejutkan pemungutan suara dalam pemilu AS, yang ternyata memberikan imbas yang jauh lebih parah daripada dampak dari polling Brexit.

“Kami telah melihat pasar bull dalam obligasi selama 30 tahun terakhir, dan jika itu merupakan akhir dari pasar bull untuk obligasi maka akan banyak penyesuaian kembali yang akan terjadi. Pasar obligasi harus dicermati untuk arah lebih lanjutnya dalam komoditas, “kata Hansen.