Equityworld Futures – Tahap pertama sidang ekstradisi eksekutif senior perusahaan raksasa telekomunikasi China, Huawei, dimulai Senin (20/1) di sebuah pengadilan di Vancouver, kasus yang memicu kemarahan Beijing dan menimbulkan kekhawatiran mengenai akan terjadinya perang teknologi yang memanas antara China dan AS.

Penangkapan CFO (chief financial officer) Huawei, Meng Wanzhou, yang kebetulan putri pendiri Huawei, pada akhir 2018, atas permintaan AS mengejutkan Beijing.

Huawei, yang mewakili ambisi China untuk menjadi kekuatan teknologi dunia, merupakan sumber keprihatinan keamanan AS selama bertahun-tahun. Beijing memandang kasus Meng sebagai usaha untuk mengekang kebangkitan China.

“Ini merupakan salah satu prioritas utama pemerintah China. Mereka luar biasa marah. Mereka akan memantau ini secara seksama, kata Wenran Jiang, cendekiawan senior di Lembaga Riset Asia University of British Columbia.

Washington menuduh Huawei menggunakan sebuah perusahaan fiktif Hong Kong untuk menjual peralatan ke Iran sehingga melanggar sanksi-sanksi yang diberlakukan AS. Washington mengatakan Meng, 47, melakukan penipuan dan mengelabui Bank HSBC mengenai urusan bisnisnya di Iran.

Meng, yang bebas dengan jaminan dan tinggal di salah satu rumah mewahnya di Vancouver, membantah tuduhan itu. Tim pembela Meng mengatakan, pernyataan-pernytaan yang dikeluarkan Presiden Donald Trump menyiratkan bahwa kasus terhadap dirinya bermotivasi politik.