Equityworld Futures – Sri Lanka telah memberlakukan jam malam, efektif segera, setelah serangkaian ledakan pada  Minggu Paskah di gereja dan hotel.

Pemerintah mengatakan pihaknya juga memblokir akses ke media sosial dan aplikasi pengiriman pesan untuk mencegah penyebaran informasi dan rumor yang salah.

Paling tidak 138 orang tewas dan ratusan lainnya dirawat di rumah sakit akibat luka-luka dalam ledakan yang hampir bersamaan yang mengguncang tiga gereja dan tiga hotel mewah di Sri Lanka pada hari Paskah, kata seorang pejabat keamanan kepada The Associated Press, dalam kekerasan terburuk di negara Asia Selatan itu sejak sipil perang berakhir satu dekade lalu.

Dua dari ledakan itu diduga dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri, menurut pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang untuk berbicara dengan wartawan. Para jamaah dan tamu hotel termasuk di antara yang tewas, kata pejabat itu.

Kemudian pada hari itu, seorang juru bicara militer Sri Lanka telah mengkonfirmasi dua ledakan lagi di luar ibukota.

Juru bicara, Brig. Atapattu, mengatakan ledakan ketujuh terjadi di sebuah wisma tamu di Dehiwala, menewaskan sedikitnya dua orang. Atapattu mengatakan ledakan kedelapan terjadi di Dematagoda di pinggiran Kolombo. Dia tidak memiliki rincian tentang ledakan Dematagoda.