Equity World Futures: Meski pada akhir pekan lalu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mampu menguat cukup signifikan, namun hasil survei Bank Indonesia yang mengindikasikan tekanan harga membuat rupiah kembali melanjutkan pelemahan di pekan ini.

Perkiraan itu seperti dikatakan Sekretaris Umum Ikatan Alumni Certified Securities Analyst (CSA), Reza Priyambada dalam analisanya yang dikirim melalui surat elektronik, Minggu (15/6). Dia mengatakan, kendati pekan lalu rupiah masih berada di zona merah, tetapi menjelang akhir pekan mampu menguat cukup signifikan.

Menurut Reza, survei penjualan eceran yang dilakukan BI pada April 2014 akan mempengaruhi pasar yang pada akhirnya menciptakan volatilitas rupiah dalam kecenderungan terdepresiasi. Bahkan, lanjut dia, perkiraan bakal meningkatnya inflasi juga akan melemahkan rupiah di pekan ini.

“Laju rupiah kembali melemah seiring respons negatif terhadap rilis BI yang menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan penjualan ritel yang mengindikasikan ekspektasi terhadap tekanan harga pada tiga bulan mendatang (Juli 2014),” papar Reza.

Sebagaimana diketahui, hasil survei penjualan eceran April 2014 menunjukkan pertumbuhan penjualan eceran yang melambat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan tahunan Indeks Penjualan Riil (IPR) yang menurun dari 17 persen (y-o-y) pada Maret 2014 menjadi 16,2 persen pada April 2014.

Perlambatan tersebut terutama didorong oleh perlambatan pada kelompok suku cadang dan aksesori, kelompok bahan bakar kendaraan dan kelompok barang budaya dan rekreasi. Sedangkan, pada Mei 2014 penjualan eceran diperkirakan stabil dengan pertumbuhan IPR 16,3 persen (y-o-y).

Lebih lanjut Reza mengungkapkan, sinyalemen dari BI yang akan tetap mempertahankan suku bunga acuan diyakini akan memberikan persepsi kepada pasar bahwa spread inflasi dengan BI Rate semakin kecil. “Imbasnya, ini tidak terlalu positif bagi rupiah,” imbuhnya.

Dia menambahkan, terapresiasinya poundsterling terhadap dolar AS juga tidak mampu membuat rupiah menguat. “Tampaknya, pelaku pasar terlihat khawatir dengan tetapnya BI Rate (7,5 persen) terhadap kemungkinan melonjaknya inflasi dengan akan datangnya bulan puasa. Laju rupiah di bawah target support Rp11.638/US$,” tuturnya.

Sumber berita: www.plasadana.com