PT Equity World Futures Jakarta: Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo mengungkapkan, rupiah akan kembali menunjukkan apresiasinya pasca ada kejelasan soal pembayaran utang luar negeri korporasi, termasuk BUMN.

Hal tersebut seperti disampaikan Agus Marto di Kompleks Perkantoran BI Jakarta, Jumat (20/6). Menurut dia, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp12.000/US$ hanya bersifat musiman dan lebih dipengaruhi faktor eksternal.

“Jadi, kami masih memahami bahwa (pelemahan rupiah) itu bersifat musiman. Tetapi, bila sudah melewati pemilihan presiden dan kondisi utang luar negeri korporasi ada kejelasan, maka situasi akan kembali normal,” papar Agus Marto.

Agus menjelaskan, rupiah yang sempat menyentuh angka 12.000 tersebut lebih besar dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sosial dan politik di luar negeri. “Pengaruh global, kondisi Amerika Serikat, Tiongkok hingga perang Irak. Selain itu, tekanan transaksi berjalan yang belum menunjukkan kondisi yang kami harapkan. Dibarengi juga oleh pressure politik,” ujarnya.

Pada dasarnya, ujar Agus Marto, secara historis rupiah memang akan melemah pada kuartal kedua, karena ada kebutuhan membeli valuta asing. “Pembelian valas itu sehubungan dengan kewajiban dividen, repatriasi, royalti dan juga utang serta bunga,” tegasnya.

Sumber berita: www.plasadana.com