Equity world  – Harga minyak mentah jatuh di sesi Asia, Senin, dengan investor mengamati perkiraan permintaan dan penawaran dari IEA dalam waktu dekat. Di Bursa Perdagangan New York, minyak mentah untuk pengiriman November anjlok 0,94% menjadi $49,34 per barel. Pada hari Selasa, Badan Energi Internasional (IEA) akan merilis laporan bulanan permintaan dan penawaran minyak global.

Pekan lalu, kontrak minyak berjangka jatuh untuk pertama kalinya dalam tiga sesi pada hari Jumat pekan lalu, tapi masih mencetak kenaikan mingguan ketiga beruntun akibat pelaku pasar menunggu rincian pembatasan produksi yang direncanakan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak.

Di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman Desember tergelincir 58 sen, atau 1,1%, pada hari Jumat untuk menetap di $51,93 per barel pada penutupan perdagangan. Kontrak tersebut reli ke $52,84 pada hari sebelumnya, tertinggi sejak 9 Juni.
Kartel minyak itu juga mencapai kesepakatan untuk membatasi produksi ke range 32,5 juta hingga 33,0 juta barel per hari, pengurangan 0,7% ke 2,2% dari produksi saat ini 33,2 juta barel.

Namun, analis pasar tetap skeptis dalam kesepakatan tersebut, mempertimbangkan bagaimana rencana itu akan dilaksanakan.
Produsen minyak OPEC merencanakan pertemuan informal dengan anggota non-OPEC Rusia di sela-sela Kongres Energi Dunia di Istanbul, Turki, yang berlangsung dari 09-13 Oktober untuk membahas bagaimana menerapkan kesepakatan pemangkasan tersebut. Namun tidak ada keputusan yang diperkirakan akan diambil di Istanbul, kata sumber-sumber OPEC.

Kelompok minyak 14-anggota itu mengatakan tidak akan menyelesaikan rincian atau menyelesaikan perjanjian produksi sampai pertemuan resmi kelompok organisasi tersebut di Wina pada 30 November.

Pelaku pasar terus fokus ke prospek pengeboran AS, di tengah indikasi pemulihan yang berkelanjutan dalam kegiatan pengeboran. Penyedia jasa ladang minyak Baker Hughes mengatakan Jumat malam bahwa jumlah pengeboran sumur minyak AS di pekan lalu naik 3 menjadi 428, menandai peningkatan 14 kalinya dalam 15 minggu.

Beberapa analis telah memperingatkan bahwa reliharga saat ini bisa merugikan diri sendiri, karena mendorong produsen shale AS untuk mengebor lebih banyak, menggarisbawahi kekhawatiran atas melimpahnya pasokan global.

Data menunjukkan persediaan minyak mentah AS jatuh dalam minggu kelima berturut-turut mendorong prospek permintaan konsumen minyak terbesar di dunia itu. Berdasarkan Badan Administrasi Informasi Energi AS, persediaan minyak mentah turun 3,0 juta barel di pekan lalu ke 499,7 juta, terendah sejak Januari.