EquityWorld Futures Jakarta: PT Bank Negara Indonesia (BNI) dan PT Garuda Indonesia menjadi perusahaan BUMN pertama melakukan sistem hedging atau lindung nilai nilai tukar. Dengan sistem ini diharapkan fluktuasi nilai tukar yang tajam tidak membuat rugi perusahaan BUMN.

Head Of Treasury BNI Aryo Bimo Notowidigdo berharap perusahaan BUMN, dapat melakukan hal yang sama. BUMN besar, masih ogah melakukan hedging karena takut dikategorikan kerugian negara.

Sejauh ini perusahaan-perusahaan BUMN sudah sering melakukan diskusi terkait dengan lindung nilai itu. Namun dalam diskusi tersebut, mengaku perusahaan BUMN ini mengaku masih berat untuk melakukan hedging dikarenakan masih adanya isu yang hingga kini belum dapat diselesaikan.

“Paling tidak dengan adanya rapat BPK dengan BI itu mungkin akan membantu kedepannya,” ujar Aryo di Gedung BNI 46, Jakarta, Rabu (25/6).

Permasalahan kedua perusahaan BUMN yang belum mau untuk melakukan hedging tersebut dikarenakan belum adanya kebutuhan dari para konsumen.

“Itu kembali lagi sesuai dengan kebutuhannya, jadi mungkin disesuaikan, mungkin ini belum pas, tapi kalau memang kebutuhan PLN seperti apa kedepannya baru kita bisa duduk bareng lagi, karena untuk hedging ini disesuaikan dengan kebutuhannya.”

Menurut Aryo saat ini dibutuhkan dialog dua arah agar perusahaan BUMN lainnya dapat memastikan kebutuhannya dalam melakukan hedging. “Jadi ibaratnya tidak lebih dan kurang, dan kita sesuaikan dengan kebutuhan nasabahnya.”

Staf ahli Kementerian BUMN, Sahala Lumban Gaol berharap BUMN lain bisa mengikuti langkah hedging yang diambil Garuda Indonesia dan BNI. Transaksi ini sudah dilindungi aturan baru yang dikeluarkan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardodjo. “Selama ini BUMN besar takut melakukan hedging, sekarang tidak usah takut lagi,” katanya.

Sumber berita: www.merdeka.com