EquityWorld Futures: Krisis ekonomi merupakan momok bagi setiap negara di dunia. Krisis pada sektor ini memberi dampak sistemik ke tiap sendi kehidupan manusia.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini tengah khawatir pada potensi munculnya krisis dari dalam negeri. Indikatornya adalah mulai banyaknya produk di industri jasa keuangan yang disinyalir berisiko tinggi.  OJK melihat salah satu penyebab tingginya risiko produk keuangan ialah gaji para bankir yang tinggi.

Bank BUKU II tidak segan-segan membajak manajer dari bank BUKU IV, dengan iming-iming gaji tinggi untuk menggenjot kinerja perusahaan.  Berkaca pada pengalaman Amerika Serikat dan Eropa, krisis 2008 justru dipicu semakin tingginya gaji kaum bankir yang akhirnya mengeluarkan berbagai produk tanpa memikirkan risikonya.  “Belajar dari pengalaman Amerika dan Eropa yang mengalami kolaps, semakin tinggi biaya remunerasi, itu membuat kecenderungan para manajer itu bertindak semakin berani mengambil risiko,” kata Deputi Komisioner OJK Bidang Pengaturan dan Pengawasan Perbankan Mulya Siregar.

Forum G20 melalui lembaga Financial Stability Board, sudah mengingatkan negara anggota termasuk di dalamnya Indonesia, supaya mengatur gaji bankir. Ini untuk mengatasi faktor ketamakan pelaku perbankan, yang dulu pernah memicu kredit macet perumahan di Negeri Paman Sam.  Mulya menilai, imbauan G20 itu bisa diterjemahkan dalam bentuk membatasi gaji manajer untuk setiap bank, mulai dari BUKU I hingga BUKU IV.

Cerita lain lagi di dunia perbankan Indonesia ialah di mana sektor ini justru banyak diisi oleh orang-orang yang tidak berasal dari bidang ekonomi. Survei firma akuntansi dan konsultasi Price Waterhouse Cooper (PwC) mengungkapkan, hal tersebut bisa terjadi karena ketersediaan SDM di industri jasa keuangan sangat sulit.  Sebanyak 44 persen responden menegaskan, saat ini perbankan kesulitan merekrut SDM yang berkualitas untuk bekerja di perusahaan masing-masing. Bahkan, para sarjana bidang ekonomi, akuntansi, atau manajemen dianggap tidak laik masuk ke sektor ini.  “Kita prihatin melihat kondisi lulusan universitas. Para bankir menilai kenapa terlalu banyak yang diajarkan ke mahasiswa tapi sedikit sekali yang bisa mereka pahami.

Akhirnya bank merekrut karyawan baru bukan lagi dari jurusan ekonomi atau bisnis,” ujar Kepala PwC Indonesia Jusuf Wibisana.  Dari pengalaman pelaku industri perbankan, justru kini lebih menguntungkan merekrut sarjana dari disiplin ilmu yang jauh dari ekonomi. PwC mencatat, banyak bank kini mempekerjakan sarjana alumni Institut Pertanian Bogor atau Institut Teknologi Bandung. Ini dikarenakan biaya pelatihan para sarjana itu untuk beradaptasi dengan tuntutan kerja bank lebih cepat, dibanding alumni jurusan ekonomi.

“Makin banyak saja pakar pertanian dan insinyur yang mengisi posisi top manajemen perbankan di Indonesia. Ini karena orang melihat kebutuhan SDM dari intelejensi mereka yang terbukti lebih cepat mengikuti pelatihan sebelum bekerja,” ungkap Jusuf.