EQUITY WORLD FUTURES – Penurunan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika yang baru-baru ini terjadi sempat membuat masyarakat dan pelaku bisnis merasa down dan cemas. Kenaikan harga BBM, kualitas infrastruktur yang rendah serta problem terkait undang-undang perburuhan dan sejenisnya membuat tren indeks bisnis menurun. Bahkan, negara maju seperti Inggris mulai menunjukkan perubahan penurunan tren indeks terkait kepercayaan bisnis, walaupun Indonesia sendiri dianggap masih potensial untuk dijadikan rekanan bisnis dan tempat investasi.

Hal ini ternyata juga mengakibatkan perubahan drastis pada tren indeks tendensi bisnis di Indonesia. Sejak 2012 lalu, terdapat fenomena yang cukup menyolok terkait indeksbermacam-macam industri di Indonesia. Ada perubahan terhadap jenis tren bisnis yang meningkat dan menurun, dan hal ini tak luput dari perhatian para pelaku bisnis dan investor.

 

Tren Indeks Bisnis yang Meningkat dan Menurun

Di Indonesia, bisnis produksi barang alias manufaktur biasanya memperoleh indeks bisnis yang cukup tinggi, namun belakangan ini trennya menurun. Hal ini bisa tampak dari catatan jumlah indeks terakhir yang dimiliki usaha manufaktur di tahun 2012, dimana jumlahya hanya mengalami peningkatan sebesar sekitar 104 poin dari tahun sebelumnya, yang mana itu tidak terlalu besar. Walaupun sempat ada fenomena penundaan kenaikan tarif BBM di tahun 2012 yang membuat iklim bisnis sempat positif, usaha manufaktur tetap mendapat tren yang rendah.

Indeks yang juga tercatat cukup rendah adalah yang terkait dengan listrik, air dan gas, dimana tahun 2012 hanya mencatat 101 poin untuk ketiganya. Sebaliknya, jika dibandingkan dengan industri pertambangan, kedua industri ini tentunya kalah jauh.  Sektor pertambangan selalu menjadi primadona indeks bisnis di Indonesia, yang sangat kaya akan hasil tambang seperti batu bara, timah dan minyak bumi. Tahun 2012 mencatat jumlah kenaikan indeks yang cukup besar untuk sektor pertambangan yaitu 116.

Akan tetapi, sektor komunikasi tak boleh diabaikan. Perkembangan teknologi terutama internet dan alat komunikasi serta makin banyaknya jumlah orang yang melek teknologi membuat indeks di industri ini meningkat cukup pesat, dan hanya sediki lebih rendah di bawah sektor pertambangan yaitu 111. Hal ini juga didukung dengan makin banyaknya kaum muda yang semakin bergantung pada teknologi komunikasi untuk hiburan dan alat belajar, sehingga jumlah pengguna teknologi komunikasi dan informasi semakin meningkatkan indeks bisnis.

 

Bagaimana dengan Sekarang?

Walaupun beberapa jenis indeks tendensi bisnis bisa jadi menunjukkan peningkatan tren, ada beberapa hal yang harus diperhitungkan terkait berbagai faktor yang memengaruhi bisnis dan ekonomi. Selain kurs rupiah yang sempat melemah bahkan sempat mencapai titik 11 ribu rupiah, kenaikan harga BBM serta isu buruh dan korupsi yang membuat banyak perusahaan was-was untuk berbisnis di Indonesia, dikhawatirkan tren indeks bisnis di berbagai bidang terutama manufaktur akan menurun.

Selain itu, isu denominasi mata uang rupiah yang akan dilangsungkan tahun 2014 dikhawatirkan akan memicu kecemasan dan inflasi karena sejauh ini informasi dan sosialisasinya dianggap masih kurang menjangkau masyarakat. Jika hal ini tak ditangani dengan tepat oleh pemerintah, yang terjadi adalah kebingungan yang bisa jadi menjurus pada inflasi. Plus, tahun 2015 adalah era perdagangan bebas ASEAN yang berarti meningkatnya PR bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas SDM-nya.

Hal-hal ini bisa mempengaruhi indeks bisnis Indonesia, sehingga walaupun beberapa jenis industri mengalami kenaikan tren indeks tendensi bisnis, pemerintah tetap harus mengupayakan agar tren bisnis bisa tetap berada di titik yang cukup tinggi untuk menunjang perekonomian.