PT EquityWorld Futures: Dualisme klaim pemenang pemilihan umum presiden dinilai masih menjadi sentimen negatif yang semakin menguatkan risiko ketidakpastian laju rupiah pada pekan depan. Selain itu, rencana normalisasi kebijakan Federal Reserve AS juga diperkirakan akan memicu pelemahan rupiah akibat terapresiasinya dolar AS.

Penilaian tersebut seperti diutarakan Sekretaris Umum Ikatan Alumni Certified Securities Analyst (CSA), Reza Priyambada dalam analisanya yang dikirim melalui surat elektronik, Minggu (20/7). “Adanya masalah dualisme klaim kemenangan pilpres membuat bertambahnya risiko ketidakpastian. Laju rupiah kian dijauhi pelaku pasar yang akan terus menunjukkan penurunan,” paparnya.

Menurut Reza, menjelang penetapan presiden terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Juli mendatang, situasi market pada awal pekan diyakini masih diliputi aksi wait and see oleh para pelaku pasar. “Masih adanya wait and see terhadap kondisi politik berujung pada adanya risiko ketidakpastian baru, membuat rupiah kian ditinggalkan,” ucap Reza.

Dalam analisanya, Reza menegaskan, langkah-langkah eksekusi para pelaku di pasar valuta asing diyakini akan menunggu keputusan final KPU, sehingga secara umum para pelaku pasar akan memilih menjauhi market di awal pekan.

Selain sentimen pilpres, jelas Reza, terdepresiasinya rupiah juga akan dipicu sejumlah faktor eksternal, terutama yang terkait dengan rencana normalisasi kebijakan The Fed. Berdasarkan data historis, kata dia, menjelang pidato kebijakan bank sentral AS, laju dolar bakal berada pada tren penguatan. “Sehingga, rupiah akan dijauhi para pelaku pasar,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, volatilitas dolar AS yang cenderung menguat tersebut lantaran adanya ekspektasi bakal membaiknya perekonomian Amerika yang selanjutnya disusul oleh kebijakan pengurangan pembelian obligasi (tapering-off) dari kebijakan quantitative easing The Fed.

Bahkan, jelas Reza, penguatan dolar AS itu dinilai menjadi pemicu utama anjloknya nilai tukar yen Jepang pada pekan lalu, sehingga kondisi ini berimbas pada laju rupiah ke arah pelemahan. “Terdepresiasinya yen dipicu rapat Bank of Japan yang mengindikasikan masih akan berlangsungnya program stimulus. Rupiah pun terpengaruh negatif dengan pelemahan yen itu,” paparnya.

Sementara itu, menurut Reza, laporan yang menyebutkan tidak akan ada lonjakan inflasiselama Ramadan akan memicu penguatan rupiah. “Menguatnya yuan terhadap dolar AS mampu membuat rupiah terapresiasi. Namun sayang, imbas tertembaknya pesawat Malaysian Airlines memberikan sentimen negatif bagi pergerakan mata uang emerging market, termasuk rupiah,” tuturnya.

Sumber berita: www.plasadana.com