EquityWorld Futures Jakarta: Sekretaris Umum Ikatan Alumni Certified Securities Analyst (CSA), Reza Priyambada menilai, aksi para trader yang menjauhi pasar obligasi pada pengujung pekan ini akan berlanjut hingga sepanjang pekan depan.

Menurut Reza, kondisi tersebut tidak terlepas dari adanya kondisi ketidakpastian baru di dalam negeri. “Aksi mengamankan posisi dan menjauhi pasar berpotensi masih akan berlanjut, terutama dengan munculnya ketidakpastian baru terhadap saling klaim kemenangan dari hasil (quick count) pemilihan umum presiden,” kata Reza dalam siaran persnya, Minggu (13/7).

Reza mengatakan, para pelaku diharapkan tetap mencermati perubahan sentimen nilai tukar rupiah, meski pada pekan depan rupiah diperkirakan masih akan melanjutkan penguatan. Meski di akhir pekan lalu, aksi profit taking yang juga melanda pasar valuta asing dan imbas pelemahan euro membuat rupiah sedikit melemah.

“Cermati sentimen perkembangan politik terhadap perubahan pergerakan laju pasar obligasi. Dan, perhatikan juga rilis data-data global. Tetaplah bersikap rasional,” paparnya.

Selain proses pilpres yang sejauh ini berjalan aman, menurut Reza, penguatan rupiah pada kemarin juga dipengaruhi oleh respons positif terhadap rilis posisi cadangan devisa akhir Juni 2014 senilai US$107,7 miliar atau lebih besar dari posisi sebulan sebelumnya yang hanya US$107 miliar.

“Masih adanya optimisme akan berlangsungnya pilpres yang aman, damai, lancar dan terkendali membuat laju nilai tukar rupiah masih akan melanjutkan penguatannya,” kata Reza sembari menyebutkan, keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate di level 7,5 persen juga menjadi sentimen positif.

Pada pekan depan (15/7), kata Reza, pemerintah berencana melelang Surat Berharga Syariah Negara atau sukuk negara berbasis proyek, yaitu Seri PBS005, Seri PBS006 dan Seri SPN-S 02012015.

Dia menyebutkan, pada pekan kemarin laju pasar obligasi sempat menguat seiring dengan eforia pasar terhadap pelaksanaan pilpres, tetapi pergerakannya kembali melemah akibat maraknya aksi profit taking di akhir pekan. “Mayoritas obligasi mengalami penurunan yield. Tampaknya pelaku pasar memanfaatkan eforia pilpres untuk trading jangka pendek,” ucapnya. –

Sumber berita: www.plasadana.com