Equity World Futures: Guna menghindari guncangan pada pasar keuangan yang pada akhirnya melemahkan seluruh indikator makroekonomi, Otoritas Jasa Keuangan diminta mendorong Lembaga Penjamin Simpanan untuk menjamin dana investor yang terhimpun melalui produk reksadana.

Pernyataan tersebut seperti diutarakan Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN), Aviliani saat ditemui di Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta, Kamis (26/6). “Rupiah kita tertekan, karena pasar keuangan yang sangat dangkal. Jadi harus banyak instrumen yang perlu dikembangkan oleh otoritas keuangan. Saya kira sudah perlu ada reksadana dalam jumlah tertentu yang dijamin oleh LPS,” ucapnya.

Selama ini, ujar Aviliani, LPS hanya menjamin dana masyarakat yang ada di perbankan, meski pada akhirnya tugas LPS berkembang untuk menjamin premi masyarakat yang terhimpun dalam lembaga perasuransian. Namun demikian, lanjut dia, hal tersebut tidak cukup untuk mendorong publik untuk menempatkan dananya di pasar keuangan nasional.

Menurut dia, seiring dengan peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia, OJK harus berinisiatif untuk meningkatkan penghimpunan dana masyarakat di pasar keuangan. “Masyarakat Indonesia berpendapatan menengah tidak mau hanya menyimpan dananya di bank saja, mereka menginginkan juga untuk berinvestasi diinstrumen lain,” ucapnya.

Dalam menjawab kebutuhan kelompok pendapatan menengah tersebut, jelas Aviliani, OJK dan LPS diharapkan bisa berkolaborasi untuk mengupayakan penjaminan pada produk reksadana. “Kalau reksadana tidak terproteksi, tentu hanya sedikit masyarakat kelas menengah yang mau berinvestasi di produk itu. Jadi, reksadana sudah harus diproteksi juga,” tuturnya.

Aviliani mengatakan, paling tidak LPS bisa menjamin reksadana hingga mencapai Rp500 juta. “Sekarang ini kan banyak reksadana bernilai kecil, kalau mereka mendapatkan penjaminan, tentu akan mendorong publik untuk berinvestasi. Penjaminan di reksadana ini sudah dilakukan di Jepang,” ujarnya.

Lebih lanjut Aviliani mengungkapkan, sejauh ini pasar keuangan kita lebih besar bergantung pada investor asing, sehingga kondisi ini akan membahayakan perekonomian nasional secara umum. “Kalau nantinya banyak investor lokal bermain di reksadana, ketika asing lari dari pasar, maka pasar keuangan kita akan lebih aman dari guncangan,” kata ekonom EC-Think Indonesia ini..

Dia menambahkan, berkembangnya investasi di reksadana pada akhirnya akan mendorong penurunan suku bunga perbankan, sehingga instrumen-instrumen lainnya di pasar keuangan bisa berjalan. “Kami sudah memberikan masukan kepada LPS untuk memproteksi produk reksa dana,” katanya.

Sumber berita: www.plasadana.com