Equity world – Harga minyak menguat dalam sesi keenamnya, Kamis (18/8), memperpanjang reli mengesankan bulan ini untuk menyentuh tertinggi lima minggu baru di tengah momentum bullish.

Minyak mentah untuk pengiriman September di Bursa Perdagangan New York naik ke puncak harian $47,17 per barel, level yang tidak terlihat sejak 7 Juli. Harga terakhir di $47,11 pukul 15.03 WIB, naik 32 sen, atau 0,68%.

Pada hari Rabu, minyak berjangka New York diperdagangkan menguat 21 sen, atau 0,45%. Patokan AS ini naik lebih dari 13% sepanjang bulan ini.

Data pasokan mingguan yang dirilis Rabu menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS dan bensin turun lebih dari perkiraan di pekan lalu.

Menurut Badan Administrasi Informasi Energi AS, persediaan minyak mentah turun 2,5 juta barel menjadi 521,1 juta. Laporan ini juga menunjukkan bahwa pasokan bensin menurun 2,7 juta barel, lebih dari penurunan 1,6 juta barel yang diharapkan.

Sementara itu, di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman Oktober naik tipis 7 sen, atau 0,14%, diperdagangkan pada $49,92 per barel setelah menyentuh sesi tertinggi $50,05, tertinggi sejak 4 Juli.

Harga Brent London diperdagangkan naik 62 sen, atau 1,26%, pada hari Rabu. Patokan internasional ini telah menguat hampir 17% sepanjang bulan Agustus di tengah indikasi produsen minyak utama mempertimbangkan kembali pembekuan produksi kolektif dalam upaya untuk meningkatkan pasar.

Reli dimulai Kamis lalu setelah Menteri Energi Arab Saudi mengatakan negara akan bekerja sama dengan produsen minyak lain untuk menstabilkan harga pada pertemuan di Aljazair bulan depan.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak, Senin mengatakan bahwa negaranya membuka kesepakatan dengan produsen minyak utama lainnya untuk membatasi produksi “jika perlu” dalam mencapai stabilitas pasar.

Namun, pelaku pasar tetap skeptis bahwa pertemuan itu akan menghasilkan tindakan konkret setelah Arab Saudi mengisyaratkan bahwa hal dapat meningkatkan produksi ke tingkat rekor baru di bulan Agustus.

Sebuah usaha bersama-sama mempertahankan tingkat produksi awal tahun ini telah gagal setelah Arab Saudi mundur atas penolakan Iran dalam mengambil bagian dari inisiatif, menggarisbawahi kesulitan persaingan politik untuk menggabungkan konsensus.

Meskipun dalam kenaikan baru-baru ini, indikasi pemulihan yang berkelanjutan dalam kegiatan pengeboran AS dikombinasikan dengan peningkatan stok produk bahan bakar di seluruh dunia diharapkan untuk menjaga harga di bawah tekanan dalam jangka pendek.

Sumber: investing.com

EQUITY WORLD FUTURES