Equityworld futures – Yahoo tak lagi seperti dulu. Sang raksasa internet asal Amerika Serikat itu tengah mencari pemilik baru demi menjaga mesin bisnisnya terus menderu.

Satu proposal pinangan santer disebut telah disetujui para petinggi Yahoo. Adalah perusahaan telekomunikasi Verizon yang kini berada di baris terdepan untuk mengakuisisi Yahoo dengan membawa mahar USD 4,8 miliar atau sekitar Rp 63 triliun.

Namun jika dilihat sekilas, angka penawaran tersebut terbilang tak terlalu wah untuk perusahaan sekaliber Yahoo yang pernah memagang tahta sebagai raja internet dunia.

Sebagai perbandingan, beberapa waktu lalu, Microsoft mengakuisisi LinkedIn senilai USD 26 miliar atau sekitar Rp 349 triliun. Ada pula Avast yang mengakuisisi AVG USD 1,3 miliar atau sekitar Rp 17,5 triliun.

Penyedia layanan instan WhatsApp pun tercatat dijual ke Facebook di harga yang sangat tinggi, mencapai USD 19 miliar pada tahun 2014 lalu. Dan sedikit kembali ke belakang ada Nokia — yang meskipun bisnisnya saat itu tengah anjlok — tetap diakuisisi Microsoft seharga USD 7,2 miliar.

Maka tak heran jika ada suara-suara yang mempertanyakan soal harga jual Yahoo yang cuma ‘segitu’ — USD 4,8 miliar. Bahkan seperti dilansir USNews, Verizon konon awalnya cuma berani menawar di angka USD 3,75 miliar hingga USD 4 miliar untuk mendapatkan core bisnis pencarian internet dan periklanan Yahoo.

Sampai akhirnya penawaran Verizon diperluas menjadi USD 4,8 miliar untuk tambahan kepemilikan atas aset ‘non-core’ Yahoo dan sejumlah hak paten lainnya. Nah, tawaran inilah yang kemungkinan telah disepakati kedua belah pihak.

Namun yang perlu ditekankan di sini adalah, jika deal itu terjadi, kepemilikan Yahoo tak seluruhnya bakal dibeli Verizon. Mereka hanya akan mendapatkan teknologi dan bisnis inti Yahoo. Mulai dari teknologi periklanan dan aset semacam email, messenger dan properti. Sementara Yahoo masih tetap memiliki 35,5% saham di Yahoo Jepang, saham di raksasa e commerce China Alibaba serta beberapa paten.

Usha Haley, analis yang juga seorang profesor dari West Virginia University menyatakan, dengan modal USD 4,8 miliar tersebut, Verizon bakal punya modal kuat untuk menantang penguasa di ranah mobile advertising saat Alphabet (induk Google) dan Facebook.

Terlebih di pasar Amerika Serikat, Yahoo masih berada di daftar lima besar situs yang paling banyak dikunjungi, sedangkan AOL — situs milik Verizon — cuma bertengger di posisi ke-45 versi Alexa.

“Untuk berkompetisi dengan Big Two (Alphabet dan Facebook), Verizon harus go international,” ujar Usha.

“Yahoo masih memiliki jutaan pengguna domestik dan internasional, mulai dari Flickr, Tumblr, Yahoo Finance & Sport termasuk dari layanan digital-ad seperti Flurry dan BrightPoll,” lanjutnya.

Intinya, akuisisi Verizon atas unit bisnis Yahoo akan memperluas pasar periklanan Verizon agar tak lagi jago kandang. Sebab, pelanggan loyal Yahoo masih dianggap sebagai harta karun yang bisa dimonetisisasi di ranah digital.

“Platform iklan Yahoo adalah tambahan tenaga yang bagus untuk strategi Verizon menayangkan iklan yang relevan, berbasis lokasi untuk perangkat mobile,” imbuh Caleb Ulku, analis dari Ulku Logistics.

“(Akuisisi) Ini memberikan Verizon lompatan awal yang tinggi di ranah iklan mobile,” pungkasnya.