EquityWorld Futures Jakarta -Kilang minyak dalam negeri seperti yang dimiliki PT Pertamina (Persero) ternyata hanya dapat menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) dengan Research Octane Number (RON) 65-70. Ini penyebabnya.

“Kilang kita hanya bisa menghasilkan RON 65-70 itu karena selain teknologi kilangnya sudah lama, juga karena minyak bumi di Indonesia hanya mampu menghasilkan RON yang rendah,” ungkap Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim kepada detikFinance, Kamis (8/5/2014).

Ibrahim mengatakan, jenis minyak bumi itu berbagai macam. Berdasarkan beratnya ada naftalena, parafin, aromatik, aspatena, dan banyak lagi.

“Minyak-minyak kita dari lapangan Minas dan Duri yang dikelola Chevron ini banyak menghasilkan naftalena yang nantinya menjadi pelumas dan aspal. Sayangnya produksi dari lapangan-lapangan ini turun terus, jadi kita banyak impor dari Arab Saudi untuk bisa produksi pelumas dan aspal,” jelasnya.

Ibrahim menambahkan, selain minyak bumi yang menghasilkan RON rendah, teknologi kilang juga sudah tidak mutakhir sehingga tingkat efisiensinya juga kurang. Ongkos produksi menjadi mahal dan ujungnya harga BBM atau produk turunan minyak lainnya seperti pelumas dan aspal juga mahal.

“Kilang kita yang paling efisien cuma Balongan, karena paling baru dan beroperasi pada 1994. Itu pun sudah 20 tahun lalu,” katanya.

Sebelumnya, Manager Media PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardtijo menyebutkan produksi BBM dari kilang minyak dalam negeri hanya RON 65-70. “Itu karena kilang-kilang kita teknologi dan desainnya model lama,” ungkapnya.

Indonesia saat ini merupakan satu-satunya negara di dunia yang masih menggunakan atau menjual bensin RON 88. Sementara negara lain rata-rata sudah menggunakan bensin RON 90-97.

Sumber berita: http://finance.detik.com/read/2014/05/08/091756/2576748/1034/kilang-ri-hanya-hasilkan-ron-65-70-ini-sebabnya?f9911033