Equity World  РHarga minyak turun pada Senin (18/01) pagi setelah rilis data ekonomi AS yang lemah dan jumlah kasus COVID-19 global terus meningkat.

Harga minyak Brent turun 0,26% di $54,70 per barel menurut data Investing.com pukul 09.48 WIB dan harga minyak WTI turun 0,69% ke $52,06 per barel.

Data AS yang mengecewakan pada hari Jumat membuat kontrak berjangka di New York turun hingga 2,3% pada hari yang sama. Data menunjukkan bahwa penjualan ritel inti mengalami kontraksi 1,4% bulan ke bulan pada Desember, lebih besar dari kontraksi 0,1% dalam perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com dan kontraksi 1,3% yang tercatat di bulan November.

Data juga menunjukkan bahwa Indeks Harga Produsen (PPI) naik 0,3% bulan ke bulan di bulan Desember, sementara penjualan ritel turun 0,7% bulan ke bulan di bulan Desember.

Data tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi pemulihan ekonomi AS dari COVID-19, dan menambah kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar yang lemah. Selain itu jumlah kasus COVID-19 global terus meningkat, di mana jumlahnya mendekati 95 juta pada 18 Januari, menurut data Universitas Johns Hopkins.

Inggris telah menutup koridor perjalanannya secara global karena lonjakan kasus, sementara jumlah kematian di AS bisa mencapai 400.000 sebelum pelantikan Presiden terpilih AS Joe Biden pada hari Rabu.

Pergerakan dolar selama beberapa hari terakhir juga membatasi kenaikan untuk logam hitam ini karena dihargai dalam mata uang AS meski dolar sedikit turun 0,07% di 90,718 pada hari Senin pukul 09.52 WIB.

Terlepas dari hal di atas, harga minyak masih mengalami sedikit kenaikan selama minggu sebelumnya, sebagian berkat penyeimbangan kembali indeks komoditas dan janji langkah-langkah stimulus AS yang lebih besar. Namun, paket bantuan senilai $1,9 triliun yang diumumkan oleh Biden selama minggu sebelumnya mencakup inisiatif telah ditentang oleh banyak anggota dari Partai Republik dan dapat menyebabkan pertarungan legislatif yang b bisa berlarut-larut di Senat.

Sementara itu, produksi minyak Libya turun sekitar 200.000 barel sehari setelah pipa yang bocor ditutup. Peristiwa itu menggarisbawahi kesulitan yang dihadapi negara dalam mempertahankan produksinya menyusul perang saudara yang berlangsung hampir sepuluh tahun.

Sumber : Investing, Reuters
PT Equity World Futures