PT Equity World Futures: Jepang pada hari Selasa ini memangkas perkiraan pertumbuhan fiskal tahunannya bagi ekonomi terbesar ketiga di dunia tersebut, hal itu sebagai pengaruh dari melemahnya ekspor dan meningkatnya impor yang juga akibat dari kenaikan pajak penjualan di bulan April lalu terkait belanja konsumen  dan kepercayaan bisnis.

Kabinet Pemerintah menyatakan bahwa pertumbuhan tahun ini diperkirakan 1.2% dari Maret lalu, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 1.4%.

Pengumuman tersebut muncul sepekan setelah Bank of Japan juga menurunkan perkiraannya sebesar 1.0% dari awal tahun ini 1.1%.

Jepang telah melihat melebarnya ketidakseimbangan neraca perdagangan sejak krisis nuklir Fukushima pada Maret 2011 silam yang memaksa reaktor atomnya dihentikan dan kembali ke impor bahan bakar fosil yang mahal guna mengisi kekurangan energi.

Bagaimanapun, pemerintah menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan kembali ke kisaran 1.4% pada tahun fiskal setelah kebijakan Perdana Menteri Shinzo Abe yang tetap digulirkan.

Tahun lalu Abe meluncurkan 3 tahap rencana guna menghidupkan kembali ekonomi, mengumumkan adanya belanja publik dalam skala besar, terlebih pada pekerjaan umum, sementara Bank of Japan kembali memulai rencana pelonggaran moneter yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk melawan pelemahan deflasi.

Kebijakan tersebut telah memicu pertumbuhan ekonomi dan bursa saham reli, akan tetapi sejauh ini Abe hanya membuat kemajuan yang dirasa masih kurang pada kebijakan putaran ke-3 “ sehingga akan dilakukan reformasi ekonomi, seperti mengguncang pasar tenaga kerja yang kaku dan meyakinkan lebih banyak perempuan untuk menjadi tenaga kerja.

Pekan lalu, bank sentral mengeluarkan kebijakan stimulus, menyatakan bahwa ekonomi Jepang masih menunjukkan kenaikan meskipun pajak telah dinaikkan dan laporan BoJ bulan ini menunjukkan kepercayaan bisnis menurun, penurunan petama dalam 6 kuartal terakhir.

Kenaikan pajak ditujukan guna meredam hutang Negara Jepang yang masif, yang merupakan slah satu beban terberat diantara Negara-negara maju lainnya. (bgs)

Sumber : AFP