PT EquityWorld Futures Jakarta: Bank Indonesia mengumumkan, utang luar negeri (ULN) Indonesia hingga Juni 2014 meningkat sebesar US$8,6 miliar menjadi US$284,9 miliar. Kenaikan utang sebesar 3,1 persen tersebut dipengaruhi peningkatan kepemilikan nonresiden atas surat utang maupun pinjaman sektor swasta dan publik.

Berdasarkan laporan resmi BI yang dirilis pada Selasa (19/8), peningkatan posisi ULN dipengaruhi oleh meningkatnya kepemilikan nonresiden atas surat utang yang diterbitkan sektor swasta mencapai US$4,2 miliar dan sektor publik senilai US$1,2 miliar. Sedangkan, pinjaman luar negeri sektor swasta sebesar US$1,6 miliar yang melampaui turunnya pinjaman luar negeri sektor publik senilai US$0,8 miliar.

Peningkatan utang tersebut mengakibatkan kenaikan rasio ULN terhadap PDB dari 32,33 persen pada Kuartal I-2014 menjadi 33,86 persen pada Juni 2014. Sementara itu, rasio total pembayaran pokok dan bunga ULN relatif terhadap total penerimaan transaksi berjalan (debt service ratio/DSR) meningkat dari 46,42 persen menjadi 48,28 persen pada Juni 2014.

Bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, posisi ULN meningkat US$26,9 miliar atau 10,4 persen dari USD258 miliar. Peningkatan tersebut terutama disumbang oleh kenaikan pinjaman luar negeri sektor swasta (US$13,6 miliar) serta surat utang sektor publik (US$9,4 miliar) dan sektor swasta (US$2,6 miliar).

Posisi ULN Indonesia pada akhir Juni 2014 terdiri dari ULN sektor publik sebesar US$131,7 miliar (46,2 persen dari total ULN) dan ULN sektor swasta US$153,2 miliar (53,8 persen dari total ULN). Posisi ULN kedua sektor tersebut masing-masing meningkat 0,9 persen dan 5,1 persen dibandingkan dengan posisi akhir Kuartal I-2014 sebesar US$130,5 miliar dan US$145,7 miliar.

Berdasarkan jangka waktu, posisi ULN didominasi oleh ULN berjangka panjang (82,4 persen dari total ULN). ULN berjangka panjang pada akhir Juni 2014 mencapai US$234,8 miliar atau meningkat 2,2 persen dibandingkan dengan posisi akhir Kuartal I-2014 yang sebesar USD229,8 miliar.

Pada akhir Juni 2014, ULN berjangka panjang sektor publik mencapai US$124,3 miliar atau 94,4 persen dari total ULN sektor publik. ULN berjangka panjang sektor swasta tercatat sebesar US$110,5 miliar atau 72,1 persen dari total ULN swasta. Sedangkan, ULN berjangka pendek US$50,1 miliar (17,6 persen dari total ULN), meningkat 7,9 persen dibandingkan dengan posisi akhir Kuartal I-2014 sebesar US$46,4 miliar.

Pada sektor swasta, ULN di akhir Juni 2014 terutama terpusat pada sektor keuangan, industri pengolahan dan pertambangan. ULN pada ketiga sektor itu masing-masing sebesar US$42,6 miliar (27,8 persen dari total ULN swasta), US$30,9 miliar (20,2 persen) dan US$27,2 miliar (17,8 persen). Bila dibanding Kuartal I-2014, ULN ketiga sektor tersebut masing-masing tumbuh 7,9 persen, 3,2 persen dan 6,7 persen.

BI memandang, perkembangan ULN sampai Juni 2014 masih cukup sehat dalam menopang ketahanan sektor eksternal, meskipun perlu diwaspadai. BI mengaku, pihaknya akan memantau dan memperkuat kebijakan pengelolaan ULN swasta, sehingga ULN dapat berperan optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko stabilitas makroekonomi.

Sumber berita: www.plasadana.com