Equity World – Harga minyak turun pada Jumat (04/06) pagi di Asia karena peluncuran vaksin COVID-19 yang lambat dan penyebaran wabah COVID-19 yang berkelanjutan di beberapa negara membayangi prospek permintaan bahan bakar.

Harga minyak Brent turun 0,13% ke $71,22 per barel pukul 11.32 WIB dan harga minyak dan harga minyak WTI turun 0,12% di $68,73 per barrel menurut data Investing.com.

Data pasokan minyak mentah dari Badan Informasi Energi (EIA) AS menunjukkan penurunan sebanyak 5,080 juta barel dalam seminggu hingga 28 Mei. Penurunan pasokan ini lebih besar dari penurunan sebanyak 2,443 juta barel dalam perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com dan penurunan 1,662 juta barel yang dilaporkan selama minggu lalu.

Data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan penurunan sebesar 5,360 juta barel.

Di sisi COVID-19, peluncuran vaksinasi COVID-19 yang lambat dan kembali merebaknya kasus wabah COVID-19 baru-baru ini di negara-negara seperti Brasil dan India mengaburkan prospek permintaan bahan bakar.

“Kami terus melihat pemulihan permintaan minyak sebagian besar sebagai fungsi dari vaksinasi … AS dan Eropa maju dengan baik dalam upaya inokulasi mereka,” kata analis komoditas JPMorgan Chase dalam catatan.

Tetapi catatan itu menambahkan bahwa peluncuran yang lambat dari vaksinasi COVID-19 di negara-negara maju dan berkembang Asia sama-sama menunjukkan “tidak ada akhir yang jelas untuk pembatasan jarak sosial di wilayah tersebut.”

Awal pekan ini, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memperkirakan permintaan bahan bakar akan melampaui pasokan pada paruh kedua tahun 2021. Kelompok itu juga sepakat pada pertemuannya pada hari Selasa untuk melanjutkan pembatasan pasokan hingga Juli, memberikan dorongan terhadap harga minyak. Namun, tidak memberikan petunjuk apa pun tentang kebijakan pasokan di masa depan.

OPEC+ kemungkinan perlu terus meningkatkan pasokan bahan bakar pada Agustus atau September untuk memenuhi pemulihan permintaan, Chief Executive Officer PJSC Gazprom Neft Alexander Dyukov mengatakan kepada Bloomberg.

Investor lain tetap lebih optimis.

“Pasar dapat dengan mudah menyerap pasokan tambahan dari OPEC+,” Dominic Schnider, kepala komoditas dan valuta asing Asia Pasifik di UBS Global Wealth Management, mengatakan kepada Bloomberg. Ia menambahkan bahwa kebangkitan kasus COVID-19 di beberapa negara Asia tidak mungkin menggagalkan pemulihan global.

Sumber : Reuters, Investing
Equityworld Futures