Equityworld – Harga minyak terus turun pada Selasa (31/08) pagi di Asia dan akan mencatatkan kerugian bulanan terbesar sejak Oktober 2020. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+) diperkirakan akan meningkatkan produksi lebih lanjut kala bertemu pada pekan ini. Produksi minyak mentah Pantai Teluk AS juga perlahan pulih setelah Badai Ida menerjang wilayah tersebut selama akhir pekan silam.

Harga minyak Brent kian turun 0,53% di $71,85 per barel menurut data Investing.com dan harga minyak WTI terus turun 0,53% ke $68,84 per barel.

OPEC+ akan menggelar pertemuan pada hari Rabu, di mana diperkirakan akan meningkatkan pasokan sebanyak 400.000 barel per hari seiring terus membaiknya prospek permintaan bahan bakar.

Di Teluk Meksiko, meskipun produsen minyak mentah diperkirakan akan melanjutkan layanan secara bertahap setelah Badai Ida, kilang lokal diperkirakan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) AS, yang akan dirilis hari ini.

Bulan ini telah menjadi bulan penuh gejolak untuk cairan hitam pasalnya investor bereaksi terhadap wabah COVID-19 global yang melibatkan varian Delta dan volatilitas yang sama dalam dolar AS.

Namun, “gelombang telah berubah dalam beberapa minggu terakhir, lantaran pasar jauh lebih nyaman karena pemulihan permintaan tidak terganggu oleh varian Delta COVID-19,” ahli strategi komoditas senior Grup Australia & New Zealand Banking Group (OTC :ANZBY) Ltd. Daniel Hynes mengatakan kepada Bloomberg.

“Namun, pasar akan mengamati pertemuan OPEC+ untuk mencari tanda-tanda mereka melihat permintaan tidak rebound sekuat yang mereka harapkan,” tambahnya.

OPEC+ telah memulihkan sekitar 45% dari volume yang terkena dampak penyebaran COVID-19 pada musim semi 2020. Di bawah rencana yang diluncurkan oleh Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, kelompok akan mengembalikan volume yang tersisa dengan peningkatan bulanan sebanyak 400.000 barel per hari hingga akhir 2022.

Sumber : Reuters, Investing
Equityworld Futures