Equityworld Futures – Harga minyak Brent melonjak 2,68% ke $69.37 per barel menurut data Investing.com dan harga minyak WTI juga melonjak 2,64% ke $66,19 per pukul 11.41 WIB.

Data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan sebanyak 7,688 juta barel untuk pekan terakhir 30 April, yang ditetapkan sebagai penurunan terbesar sejak akhir Januari 2021. Penurunan tersebut melebihi perkiraan penurunan sebanyak 2,191 juta barel yang disiapkan oleh Investing.com dan peningkatan sebanyak 4,319 juta barel yang tercatat selama minggu sebelumnya.

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah dari Energy Information Administration (EIA) AS, yang akan dirilis pada sesi hari ini.

Presiden AS Joe Biden mengatakan pada hari Selasa bahwa AS bertujuan untuk memvaksinasi 70% orang dewasa AS dengan setidaknya satu suntikan COVID-19 pada libur Hari Kemerdekaan pada 4 Juli mendatang. Di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan negara itu akan mencabut aturan lockdown dalam tujuh minggu ke depan.

Investor berspekulasi bahwa percepatan tingkat vaksinasi COVID-19 akan membantu harga minyak kembali ke kondisi sebelum COVID-19 di pasar-pasar utama. Uni Eropa berencana untuk melonggarkan pembatasan saat puncak musim perjalanan musim panas yang akan datang, sementara negara bagian di sekitar wilayah New York di AS akan mencabut sebagian besar pembatasan kapasitas COVID-19 untuk sektor bisnis. G20, kelompok dari 20 negara ekonomi utama dunia, berencana untuk memperkenalkan apa yang disebut paspor vaksin untuk mendorong bidang perjalanan dan pariwisata.

Bagaimanapun terkait COVID-19, India, negara importir minyak terbesar ketiga global, melampaui 20,2 juta kasus COVID-19 pada 5 Mei, menurut data Universitas Johns Hopkins. Di negara lain di Asia, negara-negara termasuk Singapura, Vietnam dan Seychelles, baru-baru ini melaporkan peningkatan jumlah kasus COVID-19.

Namun, karena minyak mentah menjadi bagian utama dari permintaan komoditas yang kuat saat ini, beberapa investor masih tetap optimis.

“Reli memiliki beberapa momentum di belakangnya … pemulihan akan selalu tidak merata dan kami sekarang mulai melihat lebih banyak faktor positif yang sejalan, yang memicu harapan untuk peningkatan permintaan yang lebih kuat dalam jangka menengah.” Daniel Hynes, ahli strategi komoditas senior di Australia dan New Zealand Banking Group Ltd., mengatakan kepada Bloomberg.

Sumber : Reuters, Investing
PT Equityworld Futures