Equity World – Harga minyak lanjut naik pada Kamis (03/06) petang. Investor memperkirakan adanya lonjakan permintaan bahan bakar di AS, China, dan Eropa, serta produsen bahan bakar utama, kemungkinan akan mendorong pasokan pada tahun 2021 ini.

Harga minyak Brent naik 0,48% di $71,69 per barel dan harga minyak {{8849 WTI naik 0,42% ke $69,12 per barel pukul 13.44 WIB menurut data Investing.com.

Data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) AS menunjukkan penurunan sebanyak 5,360 juta barel untuk pekan terakhir 28 Mei. Perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com memperkirakan penurunan sebesar 2,114 juta barel dan penurunan sebesar 439.000 barel tercatat selama minggu sebelumnya.

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah dari Badan Informasi Energi (EIA) AS, yang akan dirilis pada sesi hari ini.

Analis pasar, termasuk Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+), memperkirakan permintaan bahan bakar akan melampaui pasokan pada paruh kedua tahun 2021, yang memberi dorongan pada cairan hitam tersebut.

Permintaan bahan bakar akan menjadi 99,8 juta barel per hari (bph) sementara pasokan 97,5 juta bph pada akhir 2021, menurut data OPEC+. Ini utamanya akan didorong oleh peningkatan permintaan di AS dan China, dua negara importir minyak teratas global, serta Inggris yang mencabut kebijakan penguncian COVID-19.

“Musim mengemudi AS adalah periode di mana konsumsi bahan bakar lebih tinggi dari biasanya. Lalu lintas Inggris sekarang berada di atas level pra-pandemi … kami terus melihat pemulihan permintaan minyak yang dimotori oleh AS, Eropa, dan China,” analis komoditas CBA Vivek Dhar mengatakan dalam catatan.

Di sisi pasokan, OPEC+ sepakat pada pertemuan 20 menit pada hari Selasa untuk terus secara bertahap mengurangi pembatasan pasokan hingga Juli. Tidak ada petunjuk tentang kebijakan pasokan di masa depan karena kelompok ini tetap berhati-hati hingga paruh kedua tahun 2021.

Potensi peningkatan pasokan Iran juga telah tertunda karena perundingan antara AS dan Iran untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 kembali berjalan melambat.

Meskipun optimisme tetap ada bahwa kesepakatan dapat dicapai ketika pembicaraan dilanjutkan pada minggu depan, beberapa investor masih skeptis.

“Perundingan saat ini di Wina untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015, yang akan membuat sanksi AS terhadap Iran dicabut, sekarang tampaknya tidak akan menemukan resolusi,” ujar Dhar dari CBA.

Sumber : Investing, Reuters
Equityworld Futures