EquityWorld: Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi pada akhir tahun ini, bakal mengerek angka inflasi. Menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti, lembaganya telah menghitung dampak kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap perekonomian tahun ini maupun tahun depan.

Kenaikan harga BBM, akan menghemat subsidi bahan bakar sebesar Rp 141 triliun. Namun di sisi lain, inflasi bakal terdongkrak oleh kenaikan harga. Pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan hanya 5,23 persen hingga akhir tahun, di bawah target pemerintah sebesar 5,5 persen. “Kenaikan BBM sebesar Rp 3.000 akan menghasilkan inflasi sebesar 8,47 persen,” kata Destry, di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu, 15 Oktober 2014.

Dampak kenaikan harga terhadap inflasi, diperkirakan hanya terasa dalam waktu 3 bulan. Setelah itu, kata Destry, inflasi akan kembali turun di kisaran 5,22 persen. “Berdasarkan pengalaman selama ini, kenaikan inflasi terjadi dalam satu putaran, setelah itu akan kembali normal,” katanya.

 Dengan perhitungan kenaikan sebesar Rp 3.000, defisit transaksi berjalan akhir tahun 2014 diprediksi akan berada di posisi 3,13 persen. Sedangkan defisit transaksi berjalan di tahun 2015 akan turun menjadi 2,74 persen. Pertumbuhan ekonomi 2015 juga diprediksi berada di posisi 5,1 persen.

 Menurut Destry, kenaikan harga BBM di bulan November 2014 jauh lebih tepat dibandingkan 2015. Investor akan melihat pemerintah mengalokasikan perubahan subsidi tersebut menjadi hal yang lebih produktif. “Investor melihat BBM harus cepat naik, karena kenaikan itu akan digunakan untuk belanja infrastruktur. Pemerintah juga punya kepastian untuk anggaran 2015.”