Equity World Futures: Dangkalnya pasar keuangan menjadi pemicu kekhawatiran investor terhadap potensi market crash di tengah pelemahan sejumlah indikator makroekonomi. Namun, kondisi tersebut justru harus segera disikapi investor untuk menanamkan modal dalam jangka panjang.

Hal tersebut seperti diungkapkan Putut Endro Andanawarih di Jakarta, Selasa (10/6). Dia mengatakan, sejak awal 2013 kondisi fundamental ekonomi mengalami pelemahan, meski saat ini berangsur-angsur membaik.

“Memang risiko berinvestasi itu pasti ada. Banyak orang yang ingin berinvestasi takut dengan kemungkinan terjadi market crash. Tetapi, market crash itu tidak terjadi setiap hari. Jadi, tidak perlu takut dengan risiko pasar,” ujar Putut.

Guna menyikapi risiko pasar tersebut, kata dia, seharusnya investor justru harus memulai untuk segera menempatkan modal dengan memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko. “Risiko itu akan berkurang kalau kita punya jangka waktu investasi yang panjang,” katanya.

Namun demikian, Putut berharap agar regulator lebih intensif mendorong pendalaman pasar keuangan untuk dapat meredam guncangan yang bersumber dari pelemahan indikator makroekonomi domestik maupun kondisi global.

“Pasar keuangan kita memang agak lebih bagus. Tetapi apakah sudah mendukung? Saya rasa belum. Jadi masih butuh pendalaman lagi. Masyarakat harus dikenalkan lagi pada instrumen-instrumen lain yang menjadi sarana alternatif untuk berinvestasi,” paparnya.

Dia menyebutkan, ekonomi masih melemah yang ditandai oleh defisit transaksi berjalan Kuartal II-2013 hingga 4,4 persen dari PDB, meski di akhir 2013 menjadi 2,2 persen. Demikian pula dengan inflasi Mei 2014 sebesar 7,32 persen (yoy) dan pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2014 sebesar 5,21 persen serta defisit neraca perdagangan April senilai US$1,96 miliar.

Putut mengatakan, pasar keuangan nasional sudah sepatutnya bisa mengakomodir kebutuhan publik dalam berinvestasi. “Kalau masyarakat hanya bertumpu pada simpanan-simpanan yang tradisional, tentu tidak bisa memenuhi kebutuhan masa depan mereka. Karena, investasi yang baik justru pada sekarang ini,” jelasnya.

Pada pasar modal, menurut dia, siklus bearish dan bullish dipastikan akan selalu berulang, begitu pula dengan kondisi perekonomian. “Kalau kemampuan ekonomi kita naik, tentunya terefleksi juga di pasar modal. Tetapi, jangan hanya melihat poin-poin yang menurun saja. Artinya, jangan tunda berinvestasi,” kata Putut.

Lebih lanjut dia menyebutkan, keputusan untuk menunda berinvestasi di pasar modal malah akan menimbulkan peningkatan kebutuhan membutuhkan biaya yang terkait dengan daya beli. “Kalau uang ditaruh di deposito, namun inflasi lebih tinggi dari suku bunga deposito, maka daya beli kita akan semakin rendah,” tuturnya.

Sumber berita: www.plasadana.com