Equityworld futures – Ekonomi China berhasil tumbuh 6,7% pada kuartal II-2016. Realisasi ini melebihi batas espektasi pelaku sektor ekonomi yang memperkirakan perekonomian negeri tirai bambu tersebut lebih rendah, yakni sebesar 6,6%.

Kondisi tersebut tentunya menjadi angin segar bagi Indonesia, di mana China merupakan pangsa pasar ekspor terbesar. Dengan pertumbuhan tinggi, tentunya akan mendorong permintaan yang lebih besar.

“China masih tumbuh, berarti kita harus lebih kreatif, karena pasar mereka sangat besar,” ujar Deputi Bidang Distribusi, Statistik dan Jasa Sasmito Hadiwibowo di Kantor Pusat BPS.

Sasmito menilai sejauh ini, dunia usaha Indonesia belum mampu menembus kedalaman pasar China. Ada sebanyak 1,2 miliar penduduk China, akan tetapi ekspor Indonesia masih sangat terbatas.

“Eksportir harus kreatif, bagaimana bisa masuk ke wilayah-wilayah jauh. Kalau perlu masuk ke Xinjiang yang mayoritas muslim. Ada segmentasi pasar harusnya agar produk muslim masuk ke sana,” paparnya.

“Kemudian ke daerah utara juga produksi pakaian musim dingin. Jadi kita harus melakukan segmentasi pasar ke China, sehingga bisa penetrasi,” terang Sasmito.

Di samping itu juga harus ada peningkatan kualitas ekspor. China memiliki standar kualitas yang seperti negara maju.

“Kuncinya kalau ke China itu sebenernya cara mereka menerima barang itu sudah seperti negara maju, misalnya manggis. Kelopaknya itu harus semua enam enam, lima ya lima. Berat harus serupa. Kalau eksportir kita bisa seperti itu, ekspor kita juga bisa masuk kesana,” pungkasnya.