EquityWorld: Harga emas terus menguat ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) akibat kekhawatiran pelambatan ekonomi global yang bisa mendorong Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk menahan kebijakan pengetatan moneternya.

“Isu pelambatan ekonomi global juga mendorong peralihan aset dari aset yang beresiko seperti saham ke aset yang lebih aman seperti emas,” kata Ariston Tjendra dalam ulasannya, Senin (13/10/2014).

Harga emas kini berada di kisaran US$ 1.233 per ounce. Indikator teknikal seperti RSI, Stochastic, dan MACD pada grafik 4 jam masih membuka potensi penguatan.

Penguatan harga emas di atas level US$ 1.235, lanjut Ariston, membuka potensi penguatan ke level 1.242 per ounce. Sementara pergerakan di bawah US$ 1.228 per ounce berpeluang mendorong harga mendekati area US$ 1.220 per ounce.

“Hari ini, AS libur memperingati hari Columbus sehingga tidak ada data ekonomi penting yang dirilis. Kekhawatiran pelambatan ekonomi global masih mungkin menjadi market mover hari ini,” jelasnya.

Analisis Ariston sejalan dengan hasil survei mingguan Kitco News Gold Survey yang memprediksi harga emas akan naik pada pekan ini.

Dari 23 partisipan, sebanyak 10 responden memprediksi harga emas akan naik. Berbeda tipis, sembilan partisipan menilai harga emas akan turun sementara empat lainnya melihat harga emas tak menunjukkan banyak pergerakan.

Para partisipan yakin harga emas akan menguat hingga ke level US$ 1.180 per ounce pekan ini. “Saya rasa harga emas akan menguat, level US$ 1.180 per ounce masih terbilang rendah dan berpotensi naik kembali,” ungkap pengamat harga emas Mark Leibovit.

Sumber berita: www.liputan6.com