Equityworld Futures – Dolar Amerika Serikat menguat tipis pada Kamis (18/03) pagi pasca Federal Reserve AS mengatakan tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga hingga 2023 bahkan setelah memprediksi pemulihan berbentuk huruf V untuk ekonomi AS.Indeks Dolar AS naik tipis 0,03% di 91,463 pukul 09.38 WIB menurut data Investing.com. Pasangan USD/JPY menguat 0,20% di 109,05. AUD/USD terus naik 0,45% di 0,7829 dan NZD/USD naik 0,10% di 0,7247. PDB Selandia Baru mencatatkan kontraksi mengejutkan sebesar 1% kuartal ke kuartal selama kuartal IV tahun 2020 sebelumnya.Pasangan USD/CNY turun 0,195 ke 6,4909 pukul 09.43 WIB dan GBP/USD turun 0,09% di 1,3951.

Di tanah air, rupiah beranjak menguat 0,24% ke 14.390,0 per dolar AS hingga pukul 09.50 WIB.

Ketua Fed AS Jerome Powell mempertahankan nada kebijakan yang dovish saat ia mengumumkan keputusan kebijakan terbaru Fed pada Rabu setempat atau Kamis dini hari WIB, memberikan spekulasi bahwa bank sentral akan menarik kembali stimulusnya seiring meningkatnya harapan pemulihan ekonomi yang kuat.

“Itu adalah Jay yang biasa … pasar telah berpikir The Fed akan menaikkan suku bunga kemungkinan satu kali tahun depan dan beberapa kali lagi pada tahun 2023 … akan tetap ada pertanyaan mengenai apakah Fed dapat mengendalikan inflasi,” Manajer Cabang Tokyo State Street Bank, Bart Wakabayashi, mengatakan kepada Reuters.

Fed juga memprediksi bahwa ekonomi akan tumbuh sebesar 6,5% pada tahun 2021, lompatan tahunan terbesar untuk PDB sejak tahun 1984 dan selisih 2,3 poin persen dari proyeksi tiga bulan lalu.

Inflasi diprediksi sebesar 2,4%, di atas target Fed 2%. Namun, tujuh dari 18 pejabat Fed sekarang memperkirakan suku bunga naik pada 2023, dibandingkan dengan lima orang pada Desember 2020.

Komentar Fed juga mengirim imbal hasil obligasi AS sepuluh tahun bergerak naik 0,855 di 1,655 sampai pukul 09.37 WIB.

Namun, beberapa investor tetap khawatir tentang potensi lanjutan volatilitas pasar.

“Meskipun pandangan kami tetap untuk pergerakan imbal hasil hingga akhir Februari dan Maret telah mirip dengan ‘taper-less tantrum’, ada potensi volatilitas pasar lebih lanjut, kemungkinan seputar ‘data tantrums’ selama beberapa bulan mendatang,” pakar strategi makro Goldman Sachs (NYSE:GS) Asset Management Gurpreet Gill mengatakan dalam catatan.

Dalam berita bank sentral lainnya, Bank of England (BOE) diperkirakan akan meninggalkan suku bunga bank acuan pada level terendah bersejarahnya sebesar 0,1% dan program pembelian obligasi tidak berubah ketika merilis keputusan kebijakannya hari ini. Bank of Japan (BOJ) akan melansir keputusan kebijakannya pada hari Jumat.

Sumber : Reuter, Investing
PT Equityworld Futures