EquityWorld Futures: PT. Pertamina (persero) sebagai penyalur dan distributor bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mengalami kerugian sejak 2011. Pelemahan nilai tukar kurs Rupiah disebut-sebut sebagai faktor utama kerugian Pertamina.

Senior Vice President Distribution and fuel and Marketing PT Pertamina Suhartoko memaparkan, kerugian Pertamina pada 2011 mencapai Rp 940 miliar. Kerugian ini perlahan turun menjadi Rp 842 miliar di 2012 dan turun drastis di 2013 menjadi Rp 331 miliar. Kerugian yang harus ditanggung Pertamina karena pemerintah membayar subsidi dengan cara mengutang terlebih dahulu.

“Rata-rata nunggak subsidi satu bulan Rp 17 triliun. Kalau empat bulan enggak dibayar, maka pertamina harus menanggung pembelian BBM impor. Jadi Pertamina itu satu-satunya perusahaan pemberi kredit kepada pemerintah tanpa memberikan bunga dan kredit,” jelas Suhartoko dalam workshop Menjamah Hingga Pelosok Negeri Menjangkau Pulau Terluar saat perjalanan kereta api dari Jakarta menuju Yogyakarta, Senin (16/6).

Pertamina harus tender layaknya perusahaan lainnya. Untuk mengolah dan mendistribusikan BBM subsidi, Pertamina harus lebih dulu mengeluarkan kas pribadi. Sebab, pemerintah belum menggelontorkan anggaran subsidi yang sudah dialokasikan sebelumnya.

Tahun ini pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi energi sebesar Rp 210 triliun. Dalam RAPBN-P diputuskan ada penambahan Rp 70 triliun sehingga menjadi Rp 280 triliun. Dia menjelaskan, lamanya proses pembayaran dari pemerintah karena anggaran negara harus melalui mekanisme audit BPK terutama dalam impor.

“Di dalam memenuhi BBM tergantung pada permodalan yang dimiliki,” ucapnya.

Dia mengakui, bicara soal ketahanan energi, termasuk BBM, Indonesia masih kalah jauh dari Jepang. Sebab, negeri sakura tersebut mampu melakukan penghematan selama 150 hari.

Sumber berita: www.merdeka.com