Equity World – Bursa saham di Asia Pasifik mayoritas bergerak turun pada Jumat (15/01) pagi dengan investor mencerna pengumuman rencana mega stimulus Presiden terpilih AS Joe Biden.

Nikkei 225 Jepang beranjak melemah 0,35% di 28.598,50 pukul 10.54 WIB menurut data Investing.com, KOSPI Korea Selatan jatuh 1,52% di 3.101,97 dan S&P/ASX 200 naik 0,15% di 6,725.50.

Adapun Indeks Hang Seng di Hong Kong menguat 0,10% di 28.526,00 pukul 11.00 WIB dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah 0,70% di 6.383,53 pukul 11.11 WIB.

Shanghai Composite China melemah 0,53% di 3,546.96 dan Shenzhen Component jatuh 1,47% di 14,847.94. Ketegangan dengan AS kembali meningkat karena pemerintahan Trump menambahkan Xiaomi Corp (HK:1810) dan China National Offshore Oil Corp. (CNOOC) masuk ke dalam daftar hitam negara.

Produsen smartphone Xiaomi adalah salah satu dari sembilan perusahaan yang ditambahkan ke dalam daftar hitam perusahaan China di Departemen Pertahanan AS yang memiliki hubungan dengan militer. Perusahaan lain dalam daftar adalah pembuat pesawat milik negara Commercial Aircraft Corp. of China Ltd., atau Comac. Sementara itu, Departemen Perdagangan AS memasukkan CNOOC ke dalam daftar hitam, penjelajah laut utama negara itu, atas pengeboran perusahaan China di perairan Laut China Selatan yang tengah disengketakan.

Biden meluncurkan “American Rescue Plan” pada hari Kamis, yang datang dengan beberapa kejutan. Rencana bantuan COVID-19 senilai $1,9 triliun mencakup gelombang pengeluaran baru, lebih banyak pembayaran langsung kepada rumah tangga, perluasan tunjangan pengangguran, dan perluasan vaksinasi serta program pengujian virus.

Meskipun pengumuman Biden belum mampu mendorong saham AS ke wilayah positif pada sesi sebelumnya, beberapa investor menyatakan kekhawatiran tentang biaya rencana tersebut.

“Perhatian adalah apa artinya dari sudut pandang pajak,” kepala strategi investasi Inverness Counsel Tim Ghriskey mengatakan kepada Reuters.

“Pengeluaran itu mudah dilakukan tetapi pertanyaannya adalah bagaimana Anda akan membayarnya? Pasar sering mengabaikan politik, tetapi mereka tidak sering mengabaikan pajak,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan kepada peserta di simposium virtual yang digelar Universitas Princeton bahwa bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga “dalam waktu dekat”, kecuali jika mereka melihat tanda-tanda inflasi yang mengganggu. Powell menambahkan bahwa para pembuat kebijakan akan “membiarkan dunia tahu” jauh sebelum setiap keputusan untuk mengurangi pembelian obligasi, dan komentarnya semakin mempertajam kurva imbal hasil dan melihat breakeven rates naik.

“The Fed ingin membicarakan penurunan suku bunga, dan akan cukup menarik jika Fed turun tangan untuk membeli sekuritas jangka panjang dan jika pasar obligasi terganggu karena itu,” kata Ghriskey dari Inverness Counsel.

Musim laporan pendapatan juga semakin memanas saat JPMorgan (NYSE:JPM), Citigroup Inc (NYSE:C) dan Wells Fargo (NYSE:WFC) akan mengumumkan kinerjanya hari ini. Investor akan melihat apakah bank-bank mulai menurunkan cadangan kredit, melanjutkan pembelian kembali, dan memberikan panduan yang menunjukkan ekonomi membaik, kata Ketua Great Hill Capital Thomas Hayes kepada Reuters.

“Pasar ingin melihat apakah mereka menunjukkan kepercayaan. Jika arahannya kuat, itu menunjukkan kita bisa mempertahankan langkah ini,” imbuhnya.

 

 

Sumber : Investing, Reuters
PT Equity World Futures