PT EquityWorld Futures: Indonesia kini masuk dalam jajaran negara ekonomi menengah. Dalam beberapa tahun ke depan, pelbagai pihak yakin ekonomi Indonesia bisa sejajar dengan negara maju. Sayangnya, mesin penggerak ekonomi nasional yakni ekspor masih stagnan.

Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan ekspor Indonesia saat ini mengalami stagnan. Penyebabnya, kurangnya permintaan dari pasar global yang otomatis menurunkan harga komoditas asal Indonesia.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, salah satu penyebabnya adalah perlambatan ekonomi China. Ekspor Indonesia semakin stagnan dengan lahirnya Undang-Undang Minerba yang melarang ekspor bahan mineral mentah.

“Ekspor manufaktur memang meningkat, tapi tidak bisa mengkompensasi yang primer. Apalagi, sisi impor terus tumbuh,” ujarnya di Kantor Perwakilan BI Padang, Selasa (10/6).

Dia menuturkan, melambatnya ekspor membuat ekonomi hanya mampu tumbuh di level 5,3 persen. Konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi andalan sekaligus mesin utama penggerak ekonomi nasional.

“Maka dari itu reformasi struktural harus segera dilakukan Indonesia. Harus mulai meningkatkan ekspor menjadi barang produksi,” jelas dia.

Dia menambahkan, struktur produksi Indonesia sudah usang. Untuk meningkatkan struktur produksi Indonesia, ada dua hal yang harus difokuskan. “Ini guna mempercepat transisi ke negara maju dan penurunan angka kemiskinan,” ungkapnya.

Pertama, memperkuat integrasi industri barang bernilai tambah tinggi yang berorientasi ekspor ke dalam rantai nilai global dan memperbesar perannya dalam menambah nilai barang domestik.

“Kedua, memperkuat ketersediaan modal dasar pembangunan dalam rangka efisiensi dan integrasi internal perekonomian Indonesia,” tutup dia.

Sumber berita: Merdeka.com