Equity World Futures: Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2014 mengalami defisit sebesar USD 1,96 miliar. Ini menjadi tekanan pertama yang diderita neraca perdagangan Indonesia setelah dua bulan sebelumnya berturut-turut meraih surplus.

Defisit sebesar itu terjadi lantaran nilai ekspor Indonesia hanya tercatat sebesar USD 14,29 miliar. Sementara nilai impor mencapai USD 16,26 miliar.

“Secara volume kita sebenarnya surplus 31,8 juta ton. Tapi kita tahu itu tidak serta merta menggambarkan surplus secara nilai, karena banyak harga komoditas di pasar internasional yang turun,” ungkap Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Senin (2/6).

Merosotnya ekspor Indonesia pada April didorong oleh penurunan nilai ekspor nonmigas, terutama minyak sawit mentah atau CPO dan batu bara, sebesar 7,09 persen (month to month) menjadi USD 11,66 miliar. Di sisi lain, impor nonmigas pada saat yang sama naik 19,32 persen (mtm) menjadi UD 12,56 miliar.

Ini membuat neraca perdagangan nonmigas harus menderita defisit untuk pertama kalinya dalam empat bulan awal 2014 sebesar USD 0,89 miliar. Ini juga dipengaruhi berlakunya pelarangan ekspor bahan mineral mentah, kata Suryamin.

Selain anjloknya ekspor nonmigas, BPS juga mencatat impor minyak mentah yang masih tinggi. Neraca perdagangan migas pada April mencetak defisit USD 1,07 miliar.

Penduduk bertambah, jumlah kendaraan juga bertambah, ekonomi bertambah, maka hasil minyak kita memerlukan cukup banyak. Sementara lifting minyak masih rendah, ujarnya.

Dengan demikian, kondisi neraca perdagangan Januari-April mengalami defisit USD 849 juta. Jika diurai, neraca perdagangan nonmigas sepanjang periode itu mencatat surplus USD 3,9 miliar.

Di sisi lain, neraca perdagangan migas mencatat defisit sebesar USD 4,9 miliar. Ini harus menjadi acuan pemerintah, tandas Suryamin.

Sumber berita: http://www.merdeka.com/uang/april-2014-bps-catat-neraca-dagang-indonesia-defisit-usd-196-m.html