Kejatuhan harga emas pasca rilis data pekerjaan AS yang kuat akhir pekan lalu diperkirakan dapat terulang kembali selama beberapa bulan mendatang, menurut analis komoditas.

Emas turun 2,6 persen dari $ US1200 per ounce pada hari Jumat lalu setelah rilis data US non-farm payrolls (NFP), dan bergerak di sekitar $ US1170 pada hari Senin kemarin.

Data NFP tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat menyerap sebanyak 295.000 pekerjaan pada bulan Februari, sekitar 55.000 lebih tinggi dibandingkan ekspektasi ekonom. Selain itu, pengangguran di Negara tersebut turun sebesar 0,2 persentase poin menjadi 5,5 persen -terendah sejak Mei 2008.

“Data Nonfarm payroll telah menjadi faktor pendorong yang kuat dari harga emas selama 18 bulan terakhir,” kata analis komoditas UBS, Jo Battershill.

“Sesuatu yang belum pernah menjadi faktor pendorong besar terhadap harga emas sekarang telah menjadi pendorong yang sangat besar dari emas.”

Selain itu, emas telah menembus level teknikal penting pada kejatuhan Jumat malam lalu, yang mana telah memicu aksi penjualan lebih lanjut, katanya.

“Level $US1185 di beberapa tahun terakhir telah diasumsikan sebagai semacam level support utama. Ada banyak pengaruh di level tersebut sehingga di banyak pasar akan ada banyak pemicu pada area itu. Saya akan bayangkan sejumlah besar nilai yang akan hilang ketika level tersebut tertembus.”

Battershill mengatakan bahwa biasanya akhir Februari hingga Juli secara tradisional merupakan periode yang soft untuk emas, sehingga kita bisa melihat harga jatuh lebih jauh.

“Yang mampu mempertahankan harga diatas level tersebut pada saat itu hanyalah permintaan fisik yang sangat, sangat kuat dari China. Dalam empat bulan ke depan akan menjadi pertempuran yang cukup sengit antara kenaikan suku bunga Amerika di Barat dengan permintaan fisik di Timur.

“Dalam jangka pendek, ceritanya akan seputar tingkat suku bunga di Amerika.”

Namun, dalam jangka panjang Battershill memprediksi permintaan emas dari Asia akan menjadi support yang cukup solid pada harga emas.

“Setiap kali kita melihat emas menyentuh posisi terendah baru dalam siklus ini Anda melihat permintaan fisik yang kuat dari China dan India. Apakah akan ada pergeseran budaya emas sebagai penyimpan kekayaan dari Barat ke Timur? Saya rasa tidak juga.”

Emas kini telah turun 38 persen dari level tertinggi September 2011 di area $ US1900, meskipun demikian masih lebih tinggi dibandingkan level terendah November 2014 di $ US1144.

Analis komoditas dari ANZ, Daniel Hynes mengatakan emas bisa mencapai $ US1100 dalam tigabulan ke depan.

“Ada masanya dimana permintaan fisik juga akan melemah,” katanya. “Berita-berita yang mempengaruhi harga emas cukup kuat selama beberapa minggu terakhir dan data NFP menjadi pemecahnya.

“Prospek kami untuk emas cukup bearish untuk saat ini. Kami hanya perlu memperhatikan apa-apa saja yang bisa menekan level $ US1100.

Suku bunga AS dan dolar AS trendnya sama-sama sedang naik, seperti pasar modal, katanya.

“Semua faktor pendukung pembelian safe haven yang kita lihat pada awal tahun ini benar-benar telah menghilang dan tidak mungkin untuk kembali lagi dalam jangka pendek.”

Hynes mengatakan bahwa gambaran emas untuk jangka panjang masih lebih baik, dengan perkiraan dari ANZ adalah ke level $ US1280 per ounce pada akhir tahun 2015.