EquityWorld Futures: Pembengkakan utang luar negeri terutama dari sektor swasta terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Pertumbuhan utang swasta yang lebih tinggi dari sektor publik dikhawatirkan menjadi ancaman, lantaran bisa mengerek permintaan dolar.

Data yang dirilis Bank Indonesia menyebutkan, utang luar negeri pada Maret 2014 mencapai US$276,5 miliar atau naik 8,7 persen dibandingkan dengan Maret 2013. Dari jumlah tersebut, utang publik mencapai US$130,5 miliar dan swasta US$146 miliar. BI menyatakan nilai utang naik 7,5 persen sejak akhir 2013 terutama didorong oleh pinjaman swasta.

Jika dilihat pertumbuhannya, utang sektor swasta tumbuh 12,2 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 11,8 persen. Sedangkan utang dolar sektor publik hanya tumbuh 5,1 persen, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 3,2 persen year on year.

BI menyatakan pertumbuhan utang swasta tidak terlepas dari perkembangan beberapa sektor utama yakni industri pengolahan dan sektor keuangan. Utang industri pengolahan tumbuh 8,5 persen, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencapai 7,5 persen. Di sektor keuangan, pertumbuhan utang malah mencapai 14 persen.

Sebaliknya, utang di sektor penggalian dan pertambangan melambat dari 16 menjadi 12,1 persen. Begitu pula di sektor listrik, gas, dan air yang masih mengalami kontraksi 0,8 persen. Meski utang swasta terus naik, BI menilai perkembangannya cukup sehat untuk menopang ketahanan sektor eksternal. BI juga berjanji untuk terus mencermati utang swasta agar bisa mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko stabilitas makroekonomi.

Pertanyaannya, apakah utang swasta itu cukup memberi sumbangan pada pembangunan?