Equity World – Aktivis hak asasi manusia menyerukan pada hari Selasa (19/10) untuk memboikot Olimpiade Musim Dingin tahun depan di Beijing karena catatan hak asasi manusia China.

Kelompok-kelompok hak asasi terus mendesak Komite Olimpiade Internasional untuk menunda pertandingan dan memindahkan acara tersebut kecuali Beijing menghentikan apa yang menurut Amerika Serikat adalah genosida yang sedang berlangsung terhadap Uyghur dan kelompok minoritas Muslim lainnya di China.

IOC telah menjauhkan diri dari masalah ini. Presiden IOC Thomas Bach mengatakan pertandingan itu harus dihormati sebagai “tempat yang netral secara politik.”

Para pendukung hak mengatakan sekitar 1 juta orang Uyghur ditahan di kamp-kamp. Beberapa menuduh Beijing melakukan penyiksaan, sterilisasi paksa dan kerja paksa. China membantah menganiaya Uyghur.

China juga menerima kritik global atas tindakan kerasnya terhadap pengunjuk rasa di Hong Kong dan kebijakannya terhadap Taiwan dan Tibet.

Dalam upacara penyerahan hari Selasa di dalam stadion kosong yang dijaga ketat di Athena tempat Olimpiade modern pertama diadakan pada tahun 1896, Wakil Presiden Olimpiade Beijing Yu Zaiqing menyalakan lentera kecil dari api yang dinyalakan hari Minggu di stadion.

Lentera akan tiba di Beijing pada hari Rabu, memulai estafet obor yang berakhir dengan pembukaan pertandingan pada 4 Februari.

Beberapa jam sebelum upacara serah terima, polisi Yunani memutus akses ke stadion dan mengepungnya setelah para aktivis Tibet menerobos penghalang polisi saat api menyala.

Pada konferensi pers sebelumnya di Athena, para aktivis meminta negara-negara, sponsor dan atlet untuk memboikot apa yang mereka sebut “Genocide Games” China.

Para aktivis mengatakan, jika tidak melakukan boikot, berarti komunitas global terlibat dalam menerima tindakan Beijing, kota pertama yang menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas dan Musim Dingin.

Sumber: VOA, Ewfpro
Equityworld Futures